January 8, 2012

HASIL KAJIAN TEORI MODERNISASI KLASIK


BAB III
HASIL KAJIAN TEORI MODERNISASI KLASIK

MC CLELLAND : MOTIVASI BERPRESTASI
          Setiap manusia memiliki waktu luang. Jika seseorang menggunakan waktu luangnya tersebut untuk menikmati hidup, seperti misalnya untuk tider dan bersenang-senang, maka orang tersebut memiliki motivasi berprestasi yang sangat rendah. Namun jika seseorang menghabiskan waktunya untuk lebih banyak mengenang teman-temannya, keluarga, kegiatan sosial, pesta dan sebagainya, maka orang tersebut memiliki kebutuhan berprestasi sangat rendah. Hanya jika seseorang berpikir bagaimana meningkatkan situasi sekarag ke arah yang lebih baik, dan hendak melaksanakan tugas-tugas yang dihadapinya dengan cara yang lebih baik, maka orang itu barulah bias disebut memiliki kebutuhan berprestasi yang amat kuat.
          Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mengukur kebutuhan berprestasi ini. Rumusan-rumusan pertanyaan tertulis bukan merupakan metode yang bagus untuk mengukur motivasi berprestasi. Karena cara seperti ini member peluang seseorang untuk bebrbohong tentang motif, kepentingan dan sikapnya. Oleh karena itu, McClelland menerapkan metode proyeksi untuk mengukur motivasi berprestasi seseorang. Setelah menunjukkan suatu gambar dari pokok penelitiannya kepada sekelompok orang, McClelland kemudian meminta kepada masing-masing orang untuk menulis dari gambar yang telah mereka lihat.        
          Jika motivasi berprestasi individual dapat diukur dengan metode proyeksi, maka pertanyaan yang muncul merupakan usaha untuk mencari alat ukur kebutuhan berprestasi satu negara tertentu. Kebijaksanaan yang ditimbulkan dari hasil kajian ini, misalnya terlihat pada upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi berprestasi dari para wiraswastawan negara Dunia Ketiga, jika memang negara Dunia Ketiga hendak membangun ekonominya. Bantuan keuangan, teknologi, dan saran-saran kebijaksanaan yang diberikan oleh Amerika Serikat pada negara Dunia Ketiga tidak mencukupi, dan tidak akan mampu membangkitkan gairah pembangunan ekonomi Dunia Ketiga tersebut. Selain itu, bahwa semakin tinggi interaksi negara Barat dengan jalan pendidikan atau pengenalan budaya, maka akan semakin memeprmudah dan mempercepat negara Dunia Ketiga utnuk menyerap cirri-ciri motivasi berprestasi tinggi yang dimiliki oleh negara Barat.

INKELES : MANUSIA MODERN
          Menurut Inkeles, manusia modern akan memiliki berbagai karakteristik pokok berikut ini:
o        Terbuka terhadap pengalaman baru
o        Manusia modern akan memiliki sikap untuk semakin independen terhadap berbagai bentuk otoritas tradisional, seperti orang-tua, kepala suku/etnis, dan raja
o        Manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan, termasuk percaya akan kemampuannya untuk enundukkan alam semesta
o        Manusia modern memiliki otoritas mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi
o        Manusia modern memiliki jangka panjang
o        Manusia modern aktif terlibat dalam percaturan politik

SARBINI SUMAWINATA : LEPAS LANDAS INDONESIA
          Sumawinata memulai pengamatannya, dengan terlebih dahulu secara ringkas mengingatkan tiga syarat mutlak yang menurut Rostow harus dipenuhi jika masyarakat hendak mencapai tahap lepas landas pembangunan ekomominya. Pertama, untuk mencapai lepas landas, ekonomi negara memerlukan tingkat investasi produktif paling tidak sebesar 10% dari pendapatan nasional; Kedua, pertumbuhan yang itnggi atas satu atau lebih cabang industri yang sentral; dan Ketiga, tumbuh dan berkembangnya kerangka sosial politik yang mampu menyerap dinamika perubahan masyarakat.

ROBERT N. BELLAH : AGAMA TOKUGAWA
          Hasil kajian Bellah mencoba mengamati apa kaitan yang terjadi antara agama Tokugawa dengan pembangunan ekonmi Jepang. Lebih khusus lagi penelitian ini menguji apa sumbangan yang diberikan oleh agama Tokugawa terhadap cepatnya lajunya pembangunan ekonomi Jepang, dan bagaimana sumbangan itu diwujudkan.

LATAR BELAKANG TEORETIS
          Sebagai murid Parsons, Bellah banyak meminjam dan menggunakan konsep fungsionalismenya untuk menjelaskan hubungan antara  agama dengan masyarakat industi modern Jepang. Dalam hal ini Bellah memberikan pengertian masyrakat industri modern sebagai masyarakat yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai-nilai ekonomi, seperti misalnya rasionalisasi, universalitas, dan nilai-nilai berprestasi.
          Ia mencoba mencari dan enemukan cirri-ciri terseut pada agama di Jepang yang mungkin telah membantu terjadinya perubahan yang kritis dari nilai-nilai dan ajaran pokok masyarakat.

AGAMA JEPANG
          Bellah meliha tiga kemungkinan keterkaitan antara agama dan pembangunan ekonomi di Jepang. Pertama,  agama secara langsung mempengaruhi etika ekonomi; kedua, pengaruh agama terhadap ekonomi terjadi melalui pranata politik; dan ketiga, pengaruh agama terjadi melalui pranata keluarga.

PENGARUH AGAMA
          Pada masa awalnya, Shinsu,  salah satu sekte agama Budha yang dikaji oleh Bellah menekankan pada pentingnya keselamatan yang lebih didasarkan pada keyakinan saja, dan hanya sedikit memberikan perhatian pada tuntutan etika. Bellah melihat adanya tiga karakteristik pokok dari ajaran dan tuntutan persyaratan etika ini. Pertama, ajaran utnuk bekerja secara tekun dan sungguh-sungguh. Kedua,  ajaran untuk memiliki sikap pertapa dan hemat dalam konumsi barang. Ketiga, sekalipun pencarian keuntungan secara tidak halal dilarang, namun usaha keras mengejar dan mengumpulkan keuntungan yang diperoleh dari usaha-usaha yang normal diberikan dan disediakan legitimasinya dalam ajaran agama melalui doktrin spirit Bodhisattva.
         
PENGARUH AGAMA MELALUI PRANATA POLTIK
          Di Cina, Konfusianisme menekaankan pentignya faktor efisiensi, harmoni, dan sekaligus integrasi dan berbagai bagian yang berbeda dari masyarakat dalam usaha produksi. Namun di jepang yang dinyatakan oleh Bellah, Konfusianisme mengambil dan memiliki makna-makna baru setelah bercampur dengan Budhisme.
          Untuk mendukung pernayataan ini, Bellah menunjuk berbagai aturan yang dimiliki oleh Iwaki, samurai pendiri Mitsubishi yang menggambarkan tentang adaptasi etika samurai pada wiraswastawan modern.  Dalam melihat kontinuitas dari nilai-nilai pokok Tokugawa di dalam periode modern Meiji, bellah menyatakan bahwa ekonomi industri modern tersebut telah dierembesi oleh nilai-nilai politik yang telah berkembang dan berlaku pada masa sebelumnya.
PENGARUH AGAMA MELALUI PRANATA KELUARGA
          Pemahaman tentang etika untuk mengabdi tanpa batas hanya digunakan untuk mengatur negara saja, tetapi juga untuk mengatur rumah tangga para pedagang. Rumah pedagang dilihatnya sebagai sesuatu entitas yang sakral yang menyimbolkan pemujaan terhadap nenek moyang. Ini mewujud dalam tuntutan timbal balik balas budi dari seluuruh anggota yang terlibat, sejak dari pengabdian anak kepada orang tua sampai pada pengabdian setiap pekerja kepada atasannya.
          Jika pranata kekeluargaan mampu memberikan dorongan pembangunan ekonomi Jepang, hal sebaliknya berlaku di Cina. Hal ini terjadi, karena Cina memiliki unsur pranata kekeluargaan secara berlebih. Di Cina, keluerga merupakan pranata sosial pokok masyarakat, dan oleh karena itu loyalitas pada keluarga menjadi landasan moral berpijaknya. Dengan menggunakan istilah-istilah teori fungsionalisme, Bellah mencirikan masyarakat Cina sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kekeluargaan, seperti solidaritas dan harmoni keluarga.

JEPANG : PEMBANGUNAN EKONOMI DAN DEMOKRASI
          Sejak zaman Aristoteles hingga kini, teori-teori ilmu sosial memiliki kecendrungan untuk menyatakan, bahwa “ semakin baik derajat kehidupan ekonomis suatu negara, semakin besar tersedia kemungkinan, bahwa negara tersebut akan memegang dan memelihara tatanan demokrasi “. Demokrasi diartikannya sebagai satu sistem politik yang secara ajeg memberikan kesempatan secara konstitusional untuk terjadinya perubahan pelaku pemerintahan, dan memberikan kesempatan yang sah kepada penduduknya untuk memberikan pengaruh pada berbagai keputusan pokok dengan cara menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemegang kekuasaan politik.
          Lipset membedakan adanya empat macam sistem politik yang berlaku di Eropa dan di Amerika Latin. Pertama, jenis pemerintahan demokratis yang stabil di Eropa, seperti di Inggris. Kedua, jenis pemerintahan yang tidak stabil dan diktator, seperti yang terdapat di Spanyol. Ketiga, jenis pemerintahan Amerika Latin yang demokratis dan diktator yang tidak stabil, seperti pemerintahan Brazilia. Keempat, jenis pemerintahan diktator  yang stabil di Amerika Latin, seperti di Kuba.
          Pada dasarnya Lipset menggunakan analisa stratifikasi untuk menjelaskan keterkaitan antara pembanguan ekonomi dan demokrasi. Baginya, “pembangunan ekonomi, meningkatnya pendapatan, derajat keamanan ekonomis, dan menyebarnya pendidikan banyak berpengaruh terhadap bentuk perjuanganlapisan masyarakat yang tersusun landasan pembangunan demokrasi“.

TEORI MODERNISASI KLASIK
Teori modernisasi sangat popular dan dikenal luas pada masa sesudah Perang Dunia II. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak pemerhati persoalan pembangunan negara Dunia Ketiga tertarik dan menggunakan perangkat teori, kerangka analisa, dan metode penelitian dari teori modernisasi ini. Namun demikian sejak aakhir tahun 1960-an, teori modernisasi mulai menerima kririk, baik dari kalangan mereka sendiri maupun dari kalangan pemerhati aliran pemikiran Marxis yang secara olitis dan akademis memiliki tradisi yang berbeda.

KRITIK TERHADAP TEORI MODERNISASI
Gerak Pembanguan
Pertama, para akademisi ini menentang asumsi teori evolusi tentang gerak dan arah perkembangan masyarakat. Mereka menyangsikan tentang alasan-alasan yang disampaikan untuk dijelaskan mengapa negara Dunia Ketiga harus mengikuti arah pembangunan yang pernah ditempuh oleh negara Barat. Kedua, pengritik juga mengatakan, bahwa kecendrungan untuk percaya pada gerak dan arah pembangunan yang searah ini telah menjadikan teori modernisasi untuk mengabaikan kemungkinan pencairan dan pengembangan alternatif pembangunan negara Dunia Ketiga, karena teori modernisasi beranggapan bahwa Dunia Ketiga harus mengikuti model Barat. Ketiga, pengritik juga menyatakan, bahwa para peneliti teori modernisasi klasik terlalu optimis. Peneliti ini sepertinya menganggap, bahwa karena negara Barat mampu mencapai derajat pembangunan ekonomi yang maju, maka dapat dipastikan bahwa negara Dunia Ketiga juga akan mampu mencapainya.

Niai Tradisional
Pengritik menyatakan keberatannya pada asumsi teori fungsonalisme, tentang pertentangan antara tradisi dan modern. Pertama, menanyakan tentang apakah sesungguhnya yang disebut dengan tradisi ? Apakah benar negara Dunia Ketiga memiliki seperangkat nilai tradisional yang homogen dan harmonis ? Kedua,  menanyakan tentang apakah sesungguhnya nilai tradisional dan nilai modern selalu bertolak belakang ? Ketiga, menanyakan tentang apakah sesungguhnya nilai-nilai tradisional selalu menghambat modernisasi ? Apakah diperkirakan untuk menghilangkan nilai-nilai tradisional jika hendak mencapai modernisasi ? Terakhir, pengritik meragukan tentang kamampuan proses modernisasi untuk secara total menghapuskan nilai tradisional.
Pada masa-masa gerakan kemerdekaan nasional lahir, misalnya, nilai-nilai tradisional seperti nyanyian dan music rakyat, agama rakyat, dan bahasa asli rakyat sering dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa persatuan nasional. Jika demikian halnya, maka nilai tradisional tidak pernah mati.

Metode Kajian
          Para pengritik beranggapan, bahwa peneliti yang menggunakan teori modernisasi kalsik memiliki kecendrungan untuk melakukan analisa yang abstrak, tidak jelas priode sejarah dan wilayah negara mana yang dimaksud. Dengan kata lain, pemerhati teori modernisasi klasik tidak memiliki batas ruang dan waktu dalam analisanya. Teori ini jga tidk jelas untuk periode sejarah kapan satu bahasan tertentu ditujukan. Apakah pada abad ke- 17, ke-18, ke-19, atau ke-20 ?

Kritik Ideologis
          Searah dengan arus kritik ini, Bodenheimer juga menunjuk berkembangnya “ ideologi pembangunan “ di dalam kajian ilmiah perbandingan politik dan teori sosiologi. Baginya literatur pembangunan telah menderita karena dosa warisan dari empat epistemlogi yang digunakan.

Dominasi Asing
          Teori modernisasi juga menerima kritik tentang keterlupaannya memperhatikan unsur dominasi asing dalam kerangka teorinya. Karena fokus analisanya yang lebih memperhatikan variabel intern, seperti nilai-nilai tradsional dan kurangnya investasi produktif, akibatnya pemerhati teori modernsasi hanya sedikit sekali memberikan perhatianpada dinamika eksternal, seperti kolonialisme, perusahaan multinasional, ketidakseimbangan nilai tukar perdagangan, dan cirri-ciri sistem internasional.

0 comments:

Post a Comment

Apa komentar anda tentang blog ini?